Sekilas Info :

Rabu, 27 Juni 2012

Masyarakat Bajo Masih Terpinggirkan

KENDARI, (SUARA LSM) – Masyarakat suku Bajo yang tersebar di sejumlah wilayah pesisir di Indonesia hingga kini masih dianggap sebagai warga kelas dua atau kaum terpinggirkan.
Ini karena masyarakat suku Bajo umumnya masih sangat tertinggal dari berbagai aspek kehidupan bila dibandingkan dengan warga suku-suku lainnya yang ada di Indonesia
“Kehidupan masyarakat suku Bajo di berbagai pelosok Indonesia masih menjadi ironi. Mereka hidup di tengah potensi sumber daya alam kelautan yang melimpah ruah, namun tetap hidup miskin dan tertinggal,” kata Agus Salim, Sekjen Kerukunan Keluarga (Kekar) Bajo Indonesia dalam percakapan dengan SH di Kendari, Senin (25/6).
Ia mengatakan, saat ini Kekar Bajo Indonesia tengah membentuk Kekar Bajo di tingkat kabupaten dan kota. Langkah itu diharapkan bisa membangkitkan masyarakat dari berbagai ketertinggalan dan berkontribusi positif terhadap pembangunan daerah maupun pembangunan nasional.
“Melalui Kekar Bajo ini, kami berupaya terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya masyarakat suku Bajo, sehingga dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam di sekeliling mereka secara maksimal,” katanya.
Masyarakat suku Bajo yang mendiami wilayah-wilayah pesisir di Tanah Air tidak seharusnya tertinggal dan hidup miskin. Ini karena di wilayah-wilayah permukiman masyarakat suku Bajo sarat dengan berbagai potensi sumber daya alam kelautan beragam jenis seperti ikan, cumi-cumi, rumput laut, kepiting dan udang lobster yang bernilai ekonomi tinggi.
“Kalau masyarakat suku Bajo diberdayakan dengan cara memberikan pelatihan tentang pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam kelautan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, mereka dapat memberi kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Oleh karena itu, Kekar Bajo Indonesia sebagai sebuah organisasi kerukunan keluarga masyarakat Bajo, berupaya keras mendorong peningkatan kualitas masyarakat suku Bajo di berbagai daerah di Indonesia. Dengan demikian, taraf hidup masyarakat Bajo meningkat dan bisa mengambil peran dalam pembangunan bangsa.
“Melalui Kekar Bajo ini kami mencoba membuat Jaringan Usaha Mandiri masyarakat suku Bajo. Wadah yang melibatkan para pelaku dunia usaha, terutama dari kalangan etnis Bajo, berupaya mendorong masyarakat Bajo, memanfaatkan potensi sumber daya alam kelautan secara maksimal,” tuturnya.
Ia menambahkan, komunitas masyarakat suku Bajo terbesar di Indonesia ada di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara dengan jumlah populasi sekitar 31.000 jiwa atau 14 persen dari total penduduk Wakatobi yang berjumlah 114.000 jiwa lebih.
“Mayoritas dari warga suku Bajo di Wakatobi ini masih hidup miskin dan terpinggirkan karena tidak mampu mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya alam di sekeliling mereka,” katanya.
Kondisi kemiskinan warga etnis Bajo itu tampak dari wajah perkampungan mereka yang rata-rata masih menggunakan rumah “tiang seribu” dari bahan kayu, dinding jelaja dan atap daun nipa. Selain itu, dalam satu rumah, masih dihuni tiga sampai lima keluarga akibat ketidakmampuan mereka membangun rumah.
“Kondisi itu terjadi karena tingkat pendidikan masyarakat suku Bajo rata-rata masih sangat rendah, bahkan masih banyak yang tidak tamat sekolah dasar,” ujarnya. (sp)

0 komentar:

Posting Komentar