Sekilas Info :

Senin, 09 Juli 2012

Budaya Melayu Jangan Terkikis Moderinisasi

Tuanku Mahmud Luman Jiji Perkasa Alam di dampingi Walikota Medan,Rahudman Harahap acara pembukaan Festival Budaya Melayu di lapangan Merdeka Medan,sabtu (6/7


MEDAN, (SUARA LSM)
- Budaya Melayu sebagai salah satu aset budaya nasional harus dilestarikan agar tidak terkikis dampak pengaruh negatif Moderinisasi. Upaya pelestarian budaya Melayu di daerah itu selama ini sudah direalisasikan Pemko Medan melalui penyediaan fasilitas bagi kelompok kesenian dan menggelar beragam kegiatan khas budaya tersebut secara periodik.
“Saya yakin pelestarian adat dan budaya tak harus bertabrakan dengan kemajuan. Budaya dan kemajuan jangan meniadakan satu sama lain. Keduanya justru saling memperkuat jati diri bangsa,” kata Wali Kota Medan Rahudman Harahap saat membuka ‘Silaturahmi dan Seminar Nasional Raja dan Sultan se-Nusantara III’ di Balairung Istana Maimun Jalan Brigjen Katamso Medan, Sabtu (7/7).
Dijelaskan Wali Kota, bangsa Indonesia memiliki keluhuran, keunggulan, kekhasan sejarah, peradaban dan kebudayaan. Hal inilah yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Karenanya menjadi tugas dan kewajiban semua untuk melestarikan dan mengembangkan semua yang telah dimiliki saat ini. Untuk itu dia menyampaikan tiga pesan kepada para pewaris dan penerus kerajaan dan kesultanan. Pertaman
terus secara aktif melestarikan dan mengembangkan peradaban yang mengakar kepada nilai-nilai luhur sejarah dan budaya bangsa.
Kedua, lanjutnya, semua harus aktif melestarikan dan mengembangkan peradaban yang mengakar kepada nilai-nilai luhur sejarah dan buadaya bangsa. Sedangkan yang ketiga, ikut aktif mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya, sejarah, dan peradaban.
Menurut Rahudman, jika ekonomi berbasis sejarah, budaya dan warisan bisa dikembangkan di Indonesia, pembangunan ekonomi akan mempercepat pembangunan daerah, memperluas lapangan kerja, dan menjadi sumber baru bagi perekonomian daerah.
“Hampir dua tahun saya bersama seluruh jajaran Pemko Medan dan banyak pihak gigih mengembangkan ekonomi kreatif. Pengembangannya disenergikan dengan program Visit Medan Year 2012 dan potensi kota sebagai salah satu tujuan MICE (Meeting, Insentif, Exibition & Convention). Oleh karenanya Wali Kota menilai Silaturahmi dan Seminar Raja dan Sultan se-Nusantara ini begitu penting dan strategis. Salah satunya adalah wahana pelestarian dan penghormatan budaya bangsa,” ujarnya.
Selain itu, even ini sekaligus diharapkan dapat meningkatkan kembali pemahaman masyarakat terhadap sejarah bangsa yang memiliki keunggulan, sejarah, peradaban dan kebudayaan yang tiada ternilai.
“Raja dan sultan yang hadir dalam silaturahmi dan musyawarah ini adalah pewaris dan penjaga adat. Forum silaturahmi seperti ini saya harapkan dapat semakin memperkuat persaudaraan antara raja dan sultan maupun diantara kota semua. Ini tentunya semakin memperkuat kesadaran sebagai bagian dari bangsa yang besar ini,” ungkapnya.
Silaturahmi dan seminar ini turut dihadiri Wakil Walikota Dzulmi Eldin, Sultan Hamengkubuwono X yang juga Gubernur DI Yogyakarta, Sultan Deli XIV Tuanku Mahmujd Lamanjiji Perkasa Alam, serta 80 Raja dan Sultan se-Nusantara, di antaranya Raja Samu Samu VI dari Maluku Upulatu ML Benny Ahmad Samu Samu, Sultan Serdang Ahmad Tala’a, Sultan Sepuh XIV Kraton Kesepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat, Kesultanan Banten TB Ismetullah Al-Abbas, Keraton Kanoman Cirebon Sultan M uhammad Saladin, Kesultanan Palembang Sultan Iskandar, Kesultanan Buton Sulawesi Tenggara Laode Rasyid Manarfa, Kesultanan Bulungan Kalimantan Timur Datu Abdul Hamid, Keratonan Sujrakarta GRAY Kusmurtiah Wandasari, unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kota Medan, unsur pimpinan SKPD di lingkungan Pemko Medan, Camat, dan Lurah serta undangan lainnya.
Sekjen Forum Komunikasi Informasi Keraton Nusantara (FKIKN) Gusti Kanjeng Ratu Kusmutiah Wandasari mengungkapkan, sejak FKIKN terbentuk 1995 di Keraton Surakartahardiningrat, hingga kini masih banyak Raja dan Sultan atau pemangku adat di nusantara yang belum tergabung di FKIKN. “Akibatnya posisi tawar forum ini masih lemah. Kebetulan saya juga bertugas di Komisi II DPR RI. Saya sering berkomunikasi dengan  Kementrian Dalam Negeri. Mereka menginginkan ada satu wadah yang membuat  kebijakan pemerintah tepat sasaran,” ujar Wandasari.
Dalam musyawarah ini, dia berharap, Raja dan Sultan tidak sendiri-sendiri lagi. Dengan sendiri-sendiri justru sakan menimbulkan rasa ketidakpercayaan pemerintah. Dia mengajak seluruh Raja dan Sultan di Indonesia untuk bersatu.
“Dengan bersatu kami ingin memperlihatkan kepada pemerintah bahwa kami masih eksis. Dengan demikian kami tak akan terabaikan seperti dialami selama ini,” ujarnya.
Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam silaturahmi dan musyawarah ini mengingatkan, keanekaragaman etnis yang menghiasi persada nusantara betapa begitu indah dan mempesona.
“Sebelum Indonesia merdeka sebetulnya nusantara berasal dari berbagai kerajaan, etnik, dan masyarakat adat. Setelah proklamasi kemerdekaan, baju etnik ditanggalkan sehingga menjadi satu bangsa yakni Indonesia. Meski begitu mozaik budaya lokal dengan adatnya adalah kekayaan tanah air yang tak ternailai harganya,’’ tukasnya.
Sultan Deli XIV Tuanku Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Raja dan Sultan yang datang menghadiri acara silaturahmi dan seminar nasional Raja dan Sultan se-Nusantara yang dibuka kemarin.
“Saya mengucapkan terima kasih dan selamat datang kepada seluruh Raja  dan Sultan se-Nusantara,” ucap sang Sultan yang berusia 13 tahun tersebut.
Sultan Deli XIV menyerahkan cenderamata berupa dua bilah keris  kepada Wali Kota Medan dan Wakil Wali Kota. Sebagai gantinya, Wali Kota menyerahkan cendera hati kepada Sultan Deli XIV yang diteruskan dengan pemberian cendera mata kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X. (smtp)

0 komentar:

Posting Komentar