Sekilas Info :

Kamis, 05 Juli 2012

Inflasi Berpotensi Akan Tinggi

*Biaya Pendidikan, Jelang Puasa dan Lebaran Berpengaruh
JAKARTA, (SUARA LSM) - Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudi Sadewa memperkirakan inflasi pada bulan ini masih akan tinggi. Selain karena biaya pendidikan, inflasi juga ditopang Puasa dan Lebaran. Meski cenderung naik, Purbaya optimistis inflasi year on year masih bisa dijaga di bawah 6 persen.
Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi pada bulan lalu mencapai 0,55 persen, mengakhiri siklus deflasi dan landainya inflasi selama tiga bulan terakhir. ”Beras memberi sumbangan inflasi terbesar. Dari inflasi 0,55 persen, beras memberi kontribusi 0,07 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di Kantornya, Jumat (1/7) .

Dia menjelaskan, inflasi tahun kalender mencapai 1,06 persen, sedangkan laju inflasi year on year menjadi 5,54 persen. ”Meskipun inflasi Juni lebih tinggi dibanding Mei, namun posisinya lebih rendah dibanding tahun lalu. Dengan demikian, secara year on year bisa di bawah 6 persen,” ujar Rusman.

Untuk inflasi inti, Rusman mengkhawatirkan tren yang terus meningkat. Meski belum menyentuh 5 persen, laju komponen inflasi inti Juni tercatat sebesar 0,33 persen, tahun kalender 1,91 persen, dan secara year on year 4,63 persen. 

BPS juga menyatakan jumlah produksi padi pada 2011 diperkirakan meningkat sebesar 2,4 persen atau mencapai 68,47 juta ton dibanding pada 2010. Disamping itu, kenaikan juga terjadi pada indeks nilai tukar petani (NTP) secara keseluruhan.

Untuk produksi jagung, BPS meramalkan pada tahun ini bakal turun 935,39 ribu ton (5,1 persen) dibanding 2010. Produksi jagung pada 2011 akan mencapai 17,39 juta ton pipilan kering, turun dibandingkan 2010 yang sebesar 18,33 juta ton pipilan kering. Sedangkan kedelai, produksinya diproyeksikan sebesar 819,45 ribu ton biji kering, atau turun 87,59 ribu ton (9,66 persen) ketimbang produksi tahun lalu yang sebanyak 907,03 ribu ton biji kering. 

Sementara itu, Menkeu Agus Martowardojo mengatakan, tingkat inflasi saat ini masih dalam kisaran perkiraan pemerintah. Meski demikian, pihaknya tetap mewaspadai harga-harga komoditas internasional maupun dalam negeri yang bakal terpengaruh Puasa dan Lebaran. ”Keterbatasan infrastruktur yang menghalangi pasokan barang juga menjadi perhatian pemerintah. Kita lakukan kajian dari laporan BPS,” katanya.

Dia menjelaskan, tahun ini, pemerintah memproyeksikan inflasi berada di level 6 persen atau lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 6,96 persen. Pemerintah juga bakal terus bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi, termasuk di antaranya pengendalian BBM yang berpotensi menyebabkan inflasi. (net)

0 komentar:

Posting Komentar