Sekilas Info :

Senin, 09 Juli 2012

Kemiskinan Faktor Utama Maraknya Aksi Bunuh Diri

Potret kemiskinan 

Jakarta, (SUARA LSM) - SEBAGIAN besar kasus bunuh diri di negara berkembang selalu berlatar belakang masalah ekonomi. Mereka yang didera kemiskinan umumnya tinggal di kawasan yang miskin pula.
Lantaran sama-sama didera masalah berat, umumnya lingkungan acuh tak acuh dengan masalah yang diderita tetangga, kerabat, atau saudara mereka. “Orang bunuh diri karena putus asa. Dia tidak tahu harus mencari bantuan ke mana lagi. Karena merasa terisolasi dan tidak ada yang membantu, orang akhirnya nekat bunuh diri,“ ujar psikolog UI Winarini Wil man, Kamis (5/7).
Komentar Winarini terkait dengan kasus bunuh diri tragis yang dilakukan Markiah, 30, yang terjun ke Sungai Cisadane, Bogor, Jawa Barat, bersama anaknya yang berusia tiga tahun, Rabu subuh.
Markiah, 30, dan anaknya, Salman, 3, menceburkan diri ke Sungai Cisadane dari ketinggian 12 meter. Satu anak Markiah, Krisna, 7, tidak sempat diajak terjun.
Markiah bunuh diri lantaran depresi akibat kesulitan ekonomi setelah suaminya meninggal dunia. Tanpa pekerjaan, seorang diri Markiah harus mengurus rumah tangga dengan empat anak mereka yang masih kecil.
Ada kemungkinan Markiah, duga Winarini, sudah mencoba menceritakan masalahnya ke tetangga. Namun, mungkin karena tetangga juga mengalami beban ekonomi serupa, upaya minta tolong menjadi sia-sia.
Psikiater lainnya, Mintarsih, menilai tindakan Markiah didorong sikap pesimistis karena merasa tidak memiliki masa depan lagi. Itu disebabkan masalah hidup yang dihadapinya terlalu berat.
Dalam dua tahun terakhir sedikitnya ada lima kasus bunuh diri orangtua dan anak karena impitan ekonomi.
Pada 11 Agustus 2010, Khoir Umi Latifah, 25, warga Klaten, Jawa Tengah, nekat mengajak dua anaknya yang masih balita membakar diri.
Pada 25 Oktober 2011, Suharta, 44, dan anaknya, Agung Eka Prasetya, 15, tewas bunuh diri dengan cara gantung diri bersama di depan kamar mandi rumah mereka di Karimun, Riau. Lalu pada 1 Maret 2012, Erawati, 42, tega menenggelamkan anak bungsunya, Andika, 4, ke sungai hingga tewas. Setelah itu, ia memotong urat nadinya.
Peristiwa setelah itu terjadi pada 23 Maret 2012, ketika Ratna, 35, dan dua anaknya di Surabaya, nekat meminum racun tikus. Ketiganya pun kritis. (net)

0 komentar:

Posting Komentar