Sekilas Info :

Minggu, 22 Juli 2012

Permintaan Meningkat 40%, Harga Daging Tembus Rp 80-90 Ribu

ilustrasi
PALEMBANG, (SUARa LSM) -  Naiknya harga daging sapi hingga menembus Rp 80-90 ribu perkilonya dari harga Rp 70-75 ribu perkilonya disebabkan oleh tingginya permintaan konsumen. Menjelang Ramadan ini, permintaan daging di pasar tradisional meningkat hingga 40 persen.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DP2K) Kota Palembang, Sudirman Tegoeh mengatakan,  dalam dua minggu ini lonjakan permintaan daging sapi cukup drastis. Setidaknya, dalam satu hari menghabiskan sekitar 13 ton daging sapi. Padahal, biasanya hanya sekitar 8 ton. “Memang cukup tinggi, karena menjelang puasa ini cukup banyak warga yang menggelar hajatan. Ada yang pernikahan, selamatan sampai ruwahan. Semuanya, memakai daging sapi sehingga kalau permintaan sudah tinggi otomatis harga pasti naik,” kata Sudirman.

Untuk harga sendiri, diakui Sudirman cukup tinggi. Dia mengharapkan, agar pedagang tidak mempergunakan kondisi ini untuk mengeruk keuntungan. “Kami harapkan harganya tidak sampai Rp 100 ribu perkilonya. Untuk itu, kami selalu stand by dengan suplay daging agar tidak kekurangan pasokan daging,” jelasnya.

Sedangkan untuk operasi pasar, menurut Sudirman, saat ini belum perlu dilakukan. OP daging baru bisa dilaksanakan jika memang harga daging sudah diluar daya beli masyarakat. “Harus ada subsidi juga. Kami akan terus memantau, jika memang harganya sudah sangat tinggi baru akan dilakukan operasi pasar,” katanya. 

Kenaikan harga daging ini juga, lanjut Sudirman, tidak akan berlangsung lama. Biasanya, setelah satu pekan Ramadan, akan kembali turun lagi harganya. “Karena itu, kami harapkan agar masyarakat tidak panik juga dan membeli daging dalam skala besar. Sebab, itu malah akan makin membuat harga mahal. Stok cukup, selain daging segar juga ada daging beku. Masyarakat tinggal pilih saja,” jelas Sudirman.

Bukan itu saja, tingginya permintaan daging ini dikhawatirkan akan dimanfaatkan oknum pedagang “nakal” untuk menjual daging oplosan atau gelonggongan. Karena itu, saat ini pihaknya  sudah menurunkan tim satuan petugas (satgas) ke pasar tradisional. Tim ini bertugas untuk memantau daging yang dijual pedagang. “Sekarang sudah turun, mereka ini menyamar sebagai pembeli dan langsung memeriksa daging-daging yang dijual. Hasilnya, sejauh ini masih aman. Belum ada indikasi pedagang yang menjual daging oplosan atau gelonggongan,” beber dia.

Sudirman mengimbau, warga untuk lebih berhati-hati dan waspada dalam membeli daging. Warga jangan membeli daging yang harganya murah dan sudah langsung dibungkus oleh pedagangnya.  “Kalau beli daging, biasanya dagingnya digantung jadi benar-benar terlihat. Jangan yang sudah dicampur dalam satu bungkusan daging. Perhatikan seratnya, warnanya. Kalau daging segar, tidak berbau busuk dan kalau ditekan tidak berair banyak. Jadi, harus benar-benar diperiksa dagingnya, kalau segar baru beli,” ujarnya. (net)

0 komentar:

Posting Komentar