Sekilas Info :

Sabtu, 25 Agustus 2012

Jangan Gunakan Kebakaran Sebagai Komoditas Politik


JAKARTA, (SUARA LSM) -  Pakar tata kota, Yayat Supriatna meminta para pendukung dua calon gubernur yang bersaing dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta 2012, untuk tidak menggunakan musibah kebakaran sebagai komoditas politik.

"Setiap bencana pasti meninggalkan kedukaan. Jangan dijadikan komoditas politik. Menurut saya, kalau itu dilakukan merupakan sebuah pelanggaran politik," kata Yayat Supriatna saat dihubungi di Jakarta, Jumat (24/8).

Yayat mengatakan ,menghadapi para korban kebakaran bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, karena berkaitan dengan kerugian material, kedukaan psikologis, hingga traumatis. Dia meminta supaya tidak mengeksploitasi kedukaan korban bencana.

Karut-marut 

Di sisi lain, dia mengatakan, kejadian kebakaran yang banyak terjadi belakangan ini merupakan bukti bahwa tata kelola permukiman di Jakarta masih carut-marut.

"Siapa pun gubernur yang terpilih nanti, memiliki tugas untuk menuntaskan carut-marutnya tata kelola permukiman. Jangan sampai saat kebakaran terjadi, gubernurnya ikut  kebakaran jenggot," katanya.

Apalagi, menurut dia, kebakaran yang terjadi akan ikut menambah jumlah orang miskin baru. Kemiskinan hingga saat ini masih menjadi persoalan di Jakarta yang harus ditangani oleh gubernur baru.

Selama Ramadhan hingga Idul Fitri, Polda Metro Jakarta Raya mencatat terjadi 66 kebakaran sejak 21 Juli hingga 20 Agustus dengan berbagai macam penyebab. Penyebab terbanyak adalah arus pendek (korsleting) listrik sebanyak 35 kasus, ledakan kompor atau tabung elpiji (tiga kasus), dan penyebab lainnya (28 kasus).

Media Sosial 

Di beberapa media sosial, sempat tersiar kabar bahwa kejadian kebakaran itu berkaitan dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta 2012. Ada yang menyebutkan bahwa kebakaran itu disengaja untuk mengurangi kantong-kantong massa salah satu calon.

Di media sosial itu disebutkan,  berdasarkan data hasil Pilkada DKI putaran pertama, daerah yang terjadi kebakaran massal adalah kantong suara pasangan Jokowi. Misalnya, kebakaran di Cideng, Foke meraih suara 26,07 persen, sedangkan Jokowi  55,26 persen. 

Di Kapuk Muara (Foke 25,02% dan Jokowi 62,49%), Karet Tengsin (Foke 36,1% dan Jokowi  39,36%), di Pondok Bambu (Foke 35,66% dan Jokowi 77,30%), Pekojan, Tambora (Foke 26,73% dan Jokowi 61,35%), dan di Pinangsia (Foke 33,02% dan Jokowi 56,45%. 

Siapa pelakunya?  Coba lihat dengan pernyataan Foke pada saat menyambangi korban kebakaran di Karet Tengsin yang mengatakan, “lo kemarin nyolok siape? Kalo nyolok Jokowi, bangun rumah aja sono di Solo..” Berita di media sosial ini telah menyebar luas di antara warga Jakarta.  (Ant)

0 komentar:

Posting Komentar