Sekilas Info :

Rabu, 01 Mei 2013

Demokrat Partai Nepotisme?


Jakarta, (SUARA LSM) - Dulu zaman Orde Baru, nepotisme adalah salah satu yang tradisi politik yang dipertontonkan oleh Soeharto dan kini  SBY, sang penguasa negara, meniru dengan menempatkan sanak keluarga menjadi caleg setiap pemilihan umum.
Hari ini, langkah buruk orde baru itu kembali diulangi oleh partai besar yang sempat memenangi pemilu di 2009, yaitu partai demokrat. tidak hanya di pusat, langkah nepotisme itu juga dilakukan oleh elit demokrat di level daerah.
Sebagai contoh yang di tingkat nasional, ketua umum partai demokrat ini, mengusung tak kurang dari 15 anggota keluarga besarnya untuk masuk di daftar calon yang diusung menghadapi pemilihan legislatif tahun depan.
Sebanyak 15 orang dari keluarga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono masuk dalam daftar caleg Partai Demokrat. Keikutsertaan mereka pun menimbulkan spekulasi adanya nepotisme di partai berlambang mercy itu. Namun, Sekretaris Dewan Pembina Demokrat Jero Wacik menampik adanya tuduhan KKN..
Politik nepotisme di Partai Demokrat kian subur di bawah kendali kepemimpinan Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Padahal praktik nepotisme ditentang sejak reformasi bergulir 15 tahun silam.
Dalam Daftar Calon Sementara (DCS) Partai Demokrat sejumlah nama yang masih memiliki tali persaudaraan baik suami, istri, anak, dan keponakan. Menariknya, dari daftar DCS ini praktik nepotisme dilakukan juga oleh keluarga besar SBY.
Menurut Ma'mun Murod, bekas pengurus DPP Partai Demokrat, Partai Demokrat mencatatkan sebagai paling nepotis. "Ini tentu diyakini akan semakin menambah bopeng Partai Demokrat dalam menyongsong Pemilu 2014 mendatang," ujar Ma'mun Murod dalam siaran persnya, Selasa (30/4/2013).
Ma'mun yang dikenal loyalis Anas Urbaningrum ini menuding, proses penyusunan DCS Partai Demokrat dilakukan tidak sehat dan tidak fair. Karena selain DCS yang sarat nepotisme, Ma'mun menyebutkan Partai Demokrat juga menampung sejumlah keluarga koruptor Nazaruddin.
Dari data yang disebut Ma'mun yang tercatat sebagai keluarga SBY dalam DCS yakni Edhi Baskoro Yudhoyono (anak SBY) Jatim VII, Sartono Hutomo (sepupu SBY) Jatim VII, Hartanto Edhi Wibowo (adik ipar SBY) Banten III, Agus Hermanto (adiknya ipar SBY) Jateng I, Nurcahyo Anggorojati (anaknya Hadi Utomo yang juga ipar SBY) Jateng VI.
Selain itu, Lintang Pramesti (anak Agus Hermanto) Jabar VIII, Putri Permatasari (keponakan Agus Hermanto) Jateng I, Dwi Astuti Wulandari (anak Hadi Utomo) DKI I, Mexicana Leo Hartanto (keponakan SBY) DKI I, Decky Hardijanto (keponakan Hadi Utomo) Jateng V, Indri Sulistiyowati (keponakan Hadi Utomo) NTB, Sumardani (suami Indri Sulistiyowati) Riau I, Agung Budi Santoso (famili Hadi Utomo) Jabar I, Sri Hidayati (adik ipar Agung BS), dan Putut Wijanarko (suami Sri Hidayati) Jatim VI.
Berikut daftar nama keluarga SBY yang masuk DCS:
1. Edhi Baskoro Yudhoyono (anak SBY) Dapil Jatim VII
2. Hartanto Edhi Wibowo (adik ipar SBY) Dapil Banten III
3. Sartono Hutomo (sepupu SBY) Dapil Jatim VII
4. Mexicana Leo Hartanto (keponakan SBY) Dapil DKI Jakarta I
5. Putri Permatasari (keponakan Agus Hermanto) Dapil Jateng I
6. Agung Budi Santoso (keluarga Hadi Utomo) Dapil Jabar I
7. Sri Hidayati (adik ipar Agung BS)
8. Drg Lintang Pramesti (anak Agus Hermanto) Dapil Jabar VIII
9. Indri Sulistiyowati (keponakan Hadi Utomo) Dapil NTB
10. Decky Hardijanto (keponakan Hadi Utomo) Dapil Jateng V
11. Nurcahyo Anggorojati (anak Hadi Utomo yang juga ipar SBY) Dapil Jateng VI
12. Dwi Astuti Wulandari (anak Hadi Utomo) Dapil DKI Jakarta I
13. Agus Hermanto (adik ipar SBY) Dapil Jateng I
14. Sumardani (suami Indri Sulistiyowati) Dapil Riau I
15. Putut Wijanarko (suami Sri Hidayati) Dapil Jatim VI.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Melani Suharli menampik bila Partai Dmeokrat menerapkan politik nepotisme dalam menyusun DCS. Menurut dia, dari data yang dilansir lebih sedikit dibanding total caleg yang diusung Partai Demokrat. "Dari 560 kan cuma beberapa orang (yang nepotis). Tapi yang lainnya kan enggak," ujar Melani.
Hal senada juga dibantah Ruhut Poltak Sitompul mengatakan dalam politik dicari orang yang dapat dipercaya. Menurut Ruhut, rekrutmen caleg dari kalangan keluarga bagian dari manifestasi kepercayaan politik. "Semua yang dimasukkan di DCS yang masih bertalian keluarga memiliki kualitas," kata Ruhut.

Bantahan-bantahan Jero atas dicapnya Demokrat sebagai partai nepotisme membuatnya melayangkan sindiran. "Partai lain ada nggak? Ya partai lain ada, masa kita dilarang," imbuhnya.
Para loyalis Anas Urbaningrum menilai pemilihan bakal caleg sementara oleh Majelis Tinggi Partai Demokrat sarat nepotisme. Hal itu bisa dilihat dari terpilihnya tersangka korupsi Gubernur Maluku Utara Thaib Armaiyn dan 2 saudara MNazaruddin jadi caleg Demokrat.
"Iya bisa saja, yang jelas elit-elitnya (SBY). Ini ada anaknya, istrinya, iparnya. Bisa dilihat di situ. Bahkan sudah ada yang jadi tersangka, coba lihat itu, Mantan Gubernur Maluku Utara masuk daftar caleg," ujar kuasa hukum Anas Urbaningrum, Carrel Ticualu, Senin (29/4).
Menurut Carrel, hal ini semakin menerangkan Nazaruddin menawarkan posisi dua caleg dari keluarganya itu ke petinggi Demokrat. Padahal, diketahui, Nazaruddin telah mengobrak-abrik internal Demokrat atas kasus yang menjeratnya, suap Wisma Atlet.
"Kenapa kok keluarga Nazaruddin yang sudah mengobrak-abrik Demokrat masih mendapat tempat nomor 1 di dapil masing-masing. Ada apa ini? Sementara saya pribadi kader dari 2005 dan pengurus harian PD tersingkir. Yang tersingkir kan cukup banyak, nanti akan kita total lagi," papar Carrel.
Carrel mengatakan dulu saat Anas menjadi Ketum, tidak ada yang namanya nepotisme. Namun sejak tersangka, seolah-olah Anas beserta loyalisnya tersingkirkan dari Demokrat. Bahkan Carrel curiga, penetapan Anas tersangka ada yang melatarbelakanginya.
"Sejak AU dijadikan tersangka dan terpaksa harus mundur dari ketua umum, sekarang terbukti dan terungkap, apa yang melatarbelakanginya. Salah satunya, terkait pencalonan Bacaleg. Banyak loyalis Anas yg tersingkir. Dari hasil inventarisasi teman, ternyata ada nepotisme. Sementara di zamannya Mas Anas, yang seperti ini tidak ada," ujar Carrel.
"Ini adalah konspirasi dan nepotisme dari kroni-kroni," tegasnya lagi. (net)

0 komentar:

Posting Komentar