Sekilas Info :

Kamis, 08 November 2018

Teka-teki Penyebab Jatuhnya Lion Air JT 60


Jakarta, (Suara LSM Online) - Cerita 13 menit setelah pesawat Lion Air beregister PK-LQP, yang melayani rute Jakarta-Pangkalpinang pada Senin, 29 Oktober 2018, pagi mengudara masih dipenuhi misteri.

Pesawat yang diketahui lepas landas pada pukul 06.20 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta tersebut hilang kontak dan jatuh sekitar pukul 06.33 WIB di perairan Karawang, Jawa Barat.

Sekitar 800 personel yang dibekali alat-alat canggih selama sepekan lebih ini dikerahkan untuk melacak badan dan kotak hitam pesawat (black box) di dasar laut. Dari black box itulah nantinya bakal diketahui secara pasti penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 tersebut.

Sejauh ini, hal-hal yang sudah terungkap antara lain pilot pesawat dengan nomor penerbangan JT 610 itu, Kapten Bhavye Suneja, sempat meminta kepada petugas Air Traffic Controller (ATC) Soekarno-Hatta untuk return to base (kembali ke bandara) dua menit setelah take off. Suneja juga sempat menginformasikan ke ATC soal masalah pada flight control pesawat saat terbang di ketinggian 1.700 kaki.

Detik-detik pesawat saat lepas landas hingga dilaporkan hilang juga terekam situs flightradar24 (www.flightradar24.com). Pesawat terbang menunjukkan keanehan setelah lepas landas sekitar satu menit atau pada pukul 06.21 WIB pada ketinggian 350 kaki dengan kecepatan 197 knot.

Saat itu, pilot menaikkan ketinggian pesawatnya ke 1.500 kaki dengan menambah kecepatan menjadi 222 knot. Kecepatan pesawat ditambah lagi menjadi 245 knot pada ketinggian 1.725 kaki. Pada pukul 06.22 WIB, pesawat sudah berada di ketinggian 2.050 kaki dengan kecepatan 265 knot.

Beberapa saat kemudian, ketinggian pesawat melorot jadi 1.475 kaki, tapi kecepatan bertambah menjadi 327 knot. Sampai pukul 06.24 WIB, ketinggian pesawat turun-naik antara 1.615 kaki dan 5.450 kaki dengan kecepatan 289-320 knot. Pukul 06.29 WIB, pesawat turun lagi di ketinggian 4.800 kaki.

Lalu, pada pukul 06.31 WIB, pesawat kembali ke ketinggian 5.450 kaki dengan kecepatan 324 knot. Setelah itu, ketinggiannya melorot lagi sampai 3.650 kaki dengan kecepatan 345 knot. Hingga akhirnya pesawat berlogo singa terbang tersebut tidak tampak lagi dari radar.

Temuan sementara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tak jauh berbeda. Pilot sempat mengontak petugas ATC saat pesawat berada di ketinggian 1.700 kaki pada pukul 06.22 WIB. "Pada pukul 06.22 WIB, pilot menghubungi Jakarta Control dan menyampaikan permasalahan flight control saat terbang di ketinggian 1.700 feet. Jakarta Control mengizinkan pesawat naik ke 5.000 feet," kata Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko.

Untuk melengkapi penyelidikan, KNKT telah meminta rekaman pembicaraan pilot dengan petugas ATC. Rekaman itu didapatkan dari pihak Lion Air. KNKT menolak mengungkap isi pembicaraan itu, tapi salah satunya tentang permintaan pilot kembali ke bandara. Rekaman itu akan dicocokkan dengan data penerbangan dan rekaman kokpit yang ada di black box. 

"Saat ini belum bisa kami sampaikan. Kami harus cocokkan apa yang di lapangan dengan apa yang di rekaman setelah black box ketemu. Indikasi (penyebab kecelakaan) dari sana," tutur Haryo.

Seorang nelayan Desa Tanjung Pakis, Kecamatan Tanjung Jaya, Karawang, Sabudi, 25 tahun, mengaku sempat melihat pesawat nahas itu sebelum jatuh. Ia melihat pesawat itu terbang agak rendah dibanding pesawat-pesawat lainnya, yang memang sering berputar di perairan Karawang. Pesawat Lion Air itu terbang dengan kondisi seperti oleng.

Menurut Sabudi, ketika pesawat masih di udara, tidak terdengar deru mesin. Tidak ada pula percikan api maupun asap di badan pesawat. Sayangnya, Sabudi tidak melihat detik-detik ketika pesawat itu menyentuh air. Ia cuma mendengar dentuman keras dari arah timur. “Saya melihat pesawat itu sekitar lima detiklah. Kalau masalah jatuhnya, saya tidak tahu,” ungkap Sabudi kepada wartawan, Senin (28/10).

Sementara itu, beberapa saat setelah pesawat dipastikan jatuh, Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait mengungkap pesawat PK-LQP sempat mengalami masalah teknis setelah mendarat di Bandara Cengkareng dari Denpasar, Bali, pada Minggu (28/10) malam. 

Dalam catatan flightradar24, pesawat tersebut terbang dari Denpasar memakai nomor penerbangan JT 043.

"Memang ada laporan mengenai masalah teknis, dan masalah teknis ini sudah dikerjakan sesuai dengan prosedur maintenance yang dikeluarkan oleh pabrikan pesawat," ujar Edward di Bandara Soeta, Senin (29/10).

Menurutnya, teknisi Lion Air memberikan lampu hijau atas pesawat tersebut untuk dioperasikan kembali. Namun dia enggan menyebutkan masalah teknis apa yang dialami oleh pesawat. 
“Saya pikir mengenai ini nanti biarlah instansi yang berwenang yang menggali apa yang terjadi dengan itu. Tetapi saya yakinkan bahwa pesawat ini dirilis terbang oleh engineer kami,” katanya.

Nyatanya, pesawat itu mengalami kecelakaan. Padahal pesawat tersebut masih tergolong baru, dan maskapai Lion Air adalah klien pertama Boeing untuk pesawat seri 737 MAX 8 ini. Pesawat itu tiba pada 12 Agustus 2018 dan dioperasikan mulai 15 Agustus. Jam terbangnya baru 800 jam. Adapun pilot Bhavye punya jam terbang 6.000 dan kopilot Harvino punya jam terbang 5.000.

Meski begitu, sebelum mengirimkan pesawat itu kepada Lion Air Group, Boeing sempat mengumumkan adanya kendala cacat mesin. Sebagaimana dilaporkan Associated Press dan Bloomberg, dan dikutip oleh CNBC Indonesia, pada 13 Mei 2017, Boeing menunda uji coba penerbangan seri 737 MAX karena persoalan itu.

Pabrikan yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat, kala itu menemukan problem cakram turbin bertekanan rendah yang gagal beroperasi, tetapi mereka mengklaim telah mengatasinya, sehingga tidak mengganggu jadwal penerbangan uji coba. Dengan demikian, pengiriman masih sesuai dengan jadwal untuk klien pertama mereka, yakni Lion Air. (Ferry. R)

0 komentar:

Posting Komentar