Sekilas Info :

Minggu, 27 Mei 2012

Bila Rakyat Bisa Memilih Dahlan Iskan

Menteri BUMN Dahlan Iskan
Jakarta, (SUARA LSM) - Sosok Dahlan Iskan, belakangan ini, begitu menyita perhatian publik. Tak sungkan dia berdiri di pintu tol membuka pintu tertutup yang membuat kemacetan atau naik ojek dari stasiun kereta Bogor menuju Istana.
Pria satu ini lumayan nyentrik, dia menetapkan hari lahirnya tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur. Itu ia lakukan karena tidak punya akte kelahiran, dan orang tuanya lupa kapan sebenarnya ia dilahirkan.
Di birokrasi, CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network, yang bermarkas di Surabaya menjabat sebagai Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009.
Dahlan memulai dari sangat bawah sekali dalam karirnya, yaitu calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Dan, pada tahun 1976, ia melesat menjadi wartawan majalah Tempo hingga 6 tahun kemudian (1982), Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos.
Dengan tangan Dahlan Iskan, maka Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah Cuma 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun (1987) menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar! Bukan itu saja, ia kebut lagi, 5 tahun kemudian (1993) Dahlan membentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, yang memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya dan Jakarta.
Berbekal bakat manajerial yang mumpuni itulah, maka peran ia dalam “memilih” presiden 2004 dan 2009 tidak bisa dipungkiri. Melalui JPNN nampak sekali jasa Dahlan Iskan dalam menyampaikan sosok SBY sehingga terpilih dan terpilih kembali. Sehingga wajar bila penguasa negeri ini memberikan tempat ia berkiprah di birokrasi untuk membuktikan bahwa Dahlan Iskan adalah orang penuh dedikasi bagi negeri ini sebagai “balas jasa”.
Dahlan diberi tempat di birokrasi memulai sebagai Direktur Utama PLN, hingga terus menanjak sebagi Menteri Negara BUMN. Namun, ternyata semua yang ia lakukan sejak menjabat sebagai Meneg BUMN tidak semua orang suka dengan tindak tanduknya. Padahal, kurang apa baiknya Dahlan Iskan dalam menata manajerial swasta dengan langkah-langkah pembinaan yang mengayomi. Konon, ia pernah tetap mempertahankan seorang manajer keuangan di perusahaannya yang telah membuat dirinya rugi 10 miliar.
Dalam sebuah acara yang diselenggarakan Grup KOMPAS, ia mengatakan, "Saya sering kali berbuat kegagalan, terutama saat di swasta meminjamkan uang Rp 10 miliar kepada manajer keuangan saya untuk modal bisnis, namun gagal," kata Dahlan.
Ternyata, bagi Dahlan Iskan, kegagalan yang dilakukan sang manajer sehingga perusahaannya harus menanggung utang sebesar Rp 10 miliar tidak serta-merta membuatnya mengambil keputusan untuk memecat manajer keuangan tersebut. Ia justru mempertahankan dan memberikan kesempatan kepada manajer keuangannya itu karena yakin yang bersangkutan dapat belajar dari kesalahannya. Asal kesalahannya tidak diulangi dan tidak memiliki kepentingan pribadi, seperti minta komisi atau korupsi.
Mungkin aktivitasnya yang dinilai populis, seperti mengurangi protokoler serta berpenampilan apa adanya, membuat banyak pihak gerah. Dahlan dianggap sebagai orang yang sedang menebar pesona demi mencapai ambisi yang lebih tinggi lagi dari sekedar menjadi menteri. Sehingga jangan heran, bila saat ini bertiup isu bahwa ia mempunyai ambisi menjadi Presiden Republik Indonesia.
Mampukah ia membuktikan, bahwa menjadi apapun di negeri ini bukan masalah, hanya sejauh didukung penuh oleh rakyat? Sayangnya, kondisi riil politik masih kuat dikendalikan oleh kekuatan parpol. Seandainya, rakyat bisa memilih secara independen tanpa melalui partai, Dahlan, pria ndeso, kelahiran Magetan yang kini menjadi Menteri itu banyak kalangan mengagumi karena tangguh, disiplin, serta pekerja keras, penuh dedikasi bagi negeri ini, bisa menjadi salah satu kandidat kuat menempati posisi capres 2014 mendatang. (Afrinaldi/MA/HT)

0 komentar:

Posting Komentar